Makassar — Komunitas Anak Pelangi (K-apel) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan, literasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis lorong melalui peluncuran sejumlah program unggulan yang menyasar anak-anak, remaja, ibu-ibu, keluarga, hingga lansia
Program unggulan tersebut dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat lorong akan ruang belajar yang ramah, kontekstual, dan berkelanjutan. Berangkat dari semangat pendidikan berbasis komunitas, K-APEL menghadirkan pendekatan literasi yang menyentuh aspek spiritual, budaya, ekonomi, lingkungan, hingga kesehatan.
Founder Komunitas Anak Pelangi, Rahman Rumaday, menjelaskan bahwa seluruh program disusun untuk membangun manusia seutuhnya, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara nilai dan berdaya secara sosial.
“Kami meyakini bahwa lorong bukan ruang keterbatasan, melainkan ruang harapan. Melalui program-program K-apel, kami ingin menghadirkan literasi yang membumi, dekat dengan realitas hidup masyarakat, dan mampu menumbuhkan kemandirian,” ujar Rahman Rumaday.
Salah satu program utama adalah Kampus Lorong K-apel, yang menjadi pusat pembelajaran komunitas di lorong-lorong. Kampus Lorong berfungsi sebagai ruang edukasi alternatif, tempat anak-anak dan warga belajar bersama, berbagi pengetahuan, dan menumbuhkan budaya diskusi.
Dalam aspek spiritual, K-apel menghadirkan TALIQU (Taman Literasi Qur’an) sebagai ruang literasi Al-Qur’an yang ramah anak dan keluarga. Program ini menekankan pada pembiasaan membaca, memahami, dan mencintai nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, pelestarian kearifan lokal dihadirkan melalui LIBUR (Literasi Budaya Rakyat), yang mengajak anak-anak mengenal budaya, bahasa, cerita rakyat, dan tradisi lokal sebagai identitas yang harus dijaga.
Untuk memperkuat minat baca, K-apel mengelola BELI (Beranda Literasi), yakni ruang baca terbuka yang menyediakan buku-buku bacaan anak dan keluarga, sekaligus menjadi tempat tumbuhnya kebiasaan membaca di lingkungan lorong.
Di bidang ekonomi, LIKE (Literasi Kemandirian Ekonomi) hadir sebagai program edukasi kewirausahaan dan keterampilan ekonomi keluarga, terutama bagi ibu-ibu dan remaja, agar mampu mengelola potensi ekonomi secara mandiri.
Kesadaran ekologis juga menjadi perhatian melalui LILIN (Literasi Lingkungan), yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Program LIPAT (Literasi Pangan Terpadu) dikembangkan untuk mendorong ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan sempit, urban farming, dan edukasi pangan sehat berbasis lorong.
Menjawab tantangan era digital, K-APEL menghadirkan LIMID (Literasi Media Informasi Digital) sebagai upaya membekali anak dan masyarakat dengan kemampuan bermedia yang bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Sebagai pelengkap, Rumah Sehat Berdaya menjadi program yang mengintegrasikan edukasi kesehatan, pola hidup bersih dan sehat, serta pendampingan keluarga agar tercipta lingkungan lorong yang sehat dan produktif.
Rahman Rumaday menegaskan bahwa K-apel terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Kami percaya perubahan besar lahir dari langkah kecil yang konsisten. K-apel adalah ruang kolaborasi. Siapa pun yang ingin menanam kebaikan di lorong, kami persilakan berjalan bersama,” tutupnya.
Dengan berbagai program unggulan tersebut, Komunitas Anak Pelangi terus menegaskan perannya sebagai gerakan literasi dan pemberdayaan yang tumbuh dari lorong, oleh masyarakat, dan untuk masa depan generasi pelangi.