Malam itu, Jalan Daeng Muda tidak sedang bersahabat. Sejak senja, langit sudah menggantungkan mendungnya, seolah ragu untuk memberi izin pada siapa pun yang ingin keluar rumah. Angin datang sesekali membawa dingin, dan hujan turun tanpa pola kadang rintik yang menggoda, kadang deras yang memaksa orang berpikir ulang.
Di banyak rumah, keputusan sudah bulat yakni pintu ditutup rapat, selimut ditarik lebih dekat, dan tubuh memilih diam. Malam seperti ini memang terasa logis untuk beristirahat.
Namun tidak di rumah Ibu Ismi.
Rumah yang setiap malam Sabtu dan malam Selasa menjadi markas pengajian ibu-ibu Rempong Komunitas Anak Pelangi (K-apel) itu justru membuka dirinya untuk menyambut ibu-ibu yang datang. Senin malam, 26/01/2026, satu per satu langkah datang menembus hujan. Payung-payung basah disandarkan di sudut, sandal licin dibiarkan begitu saja, wajah-wajah lelah tetap tersenyum. Cuaca boleh tidak ramah, tapi niat mereka tidak ikut surut.
Di antara langkah-langkah itu, ada satu pemandangan yang membuat malam terasa lebih bersemangat. Seorang ibu dengan kehamilan yang sudah besar namanya Ibu Satriani ia datang dengan langkah pelan. Napasnya dijaga, tangannya sesekali menopang perut yang kian berat.
Secara logika, ia punya cukup alasan untuk tidak hadir. Malam dingin, jalan licin, tubuh yang mudah lelah. Tapi ia tetap datang. “Rugi kalau tidak mengaji,” katanya singkat, seolah itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Malam itu, batas mengaji kami masih di Surah At-Taubah. Seperti biasa, sebelum atau sesudah membaca, kami mentadabburi satu hingga tiga ayat. Ayat yang kami renungkan malam itu adalah Surah At-Taubah ayat 111:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga…”
Ayat itu terasa hidup. Tidak dibaca di ruang nyaman, tapi di malam yang basah, dingin, dan melelahkan. Seolah Allah sedang mengingatkan: yang Dia beli bukan hanya kehadiran saat lapang, tapi juga langkah yang dipaksakan ketika badan ingin istirahat, niat yang dijaga di tengah hujan, dan kesabaran yang dibawa seorang ibu dengan perut yang semakin berat.
Sadar atau tidak, sejak ibu-ibu memutuskan keluar rumah malam itu, sebuah akad telah terjadi. Waktu, tenaga, rasa nyaman, bahkan kekhawatiran semuanya diserahkan. Dan seperti janji-Nya, Allah tidak pernah menawar murah. Balasannya bukan pujian manusia, melainkan surga.
Ibnu Athaillah As-Sakandari pernah berkata,
“Nilai sebuah amal tidak diukur dari besar-kecilnya perbuatan, tetapi dari apa yang dikorbankan di baliknya.”
Maka hujan yang membasahi pakaian, dingin yang menusuk kulit, dan langkah pelan seorang ibu hamil besar malam itu, menjadi saksi betapa mahalnya nilai sebuah niat.
Sering kali kita mengira amal besar hanya milik mereka yang berdiri di mimbar atau berjalan jauh ke medan dakwah. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan,
“Setiap langkah menuju kebaikan adalah sedekah.”
Dan malam itu, setiap langkah ibu-ibu sekecil apa pun adalah sedekah yang telah Allah beli.
Tidak ada satu tetes hujan pun yang sia-sia. Tidak ada satu helaan napas, satu rasa lelah, yang luput dari catatan-Nya. Apa yang terjadi malam itu bukan sebatas pengajian rutin, melainkan tabungan untuk kehidupan yang tak akan pernah berakhir.
Dan mungkin, kelak di hari yang sangat panjang, malam hujan di Jalan Daeng Muda ini akan dikenang bukan oleh manusia, tetapi oleh langit sebagai malam ketika ibu-ibu memilih datang, dan Allah memilih membalasnya dengan surga.
Parang Tambung, 27/1/2026